Mode Indonesia

Banyak orang mengatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda menjajah dengan perasaan, sehingga rakyat yang dijajah tidak merasakannya selama lebih dari tiga abad.

Mode English

Many people say that the Dutch colonial government colonized with feelings, so the colonized people did not feel it for more than three centuries.

Deskripsi Pengarang

Ia seorang di antara sedikit pengarang dari warga keturunan Cina di Indonesia yang tampil ke permukaan. Namanya, Agnes Jessica. Masih muda, kelahiran 4 April 1974. Sejak pertama kali menulis pada tahun 2000, ia telah menghasilkan 22 novel yang sudah diterbitkan oleh berbagai penerbit terkemuka di Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Grasindo, Elexmedia Komputindo dan Primanata Publishing. Sekarang, ia sedang merampungkan beberapa novel lagi yang sudah ditunggu pihak penerbit.

Novel terbarunya yang sudah dilempar ke pasar dan sangat mudah dijumpai di toko-toko buku sekarang, berjudul Rumah Beratap Bugenvil, adalah novel remaja yang diterbitkan Gramedia. Novel itu mengangkat isu perbedaan status sosial serta perilaku homoseksual yang di Indonesia masih tabu untuk dibicarakan. Novel itu dirilis awal Januari 2006 dan bulan Maret 2006 sudah mengalami tiga kali cetak ulang, masing-masing sebanyak 5000 eksemplar. Novel buah karyanya memang laris-manis, dan katanya ia punya banyak penggemar fanatik, yang pasti membeli buku karyanya yang diterbitkan. “Mungkin mereka sudah cocok dengan gaya bercerita saya,” tutur ibu muda beranak dua ini. Kebanyakan novel-novelnya memang mengambil tema remaja, tapi bukan berarti tidak ada yang bertema dewasa, sebut saja antara lain Maharani (terbitan Grasindo) yang mengangkat tema Jugun ianfu, pelacur pada jaman pendudukan Jepang di Indonesia, atau Noda Tak Kasatmata (terbitan Primanata Publishing) yang mengangkat tema pemberantasan Partai Komunis pada tahun 1966. Kini beberapa novelnya yang mendapat sambutan baik dari masyarakat telah dikontrak beberapa rumah produksi untuk diproduksi menjadi film atau sinetron. Sebut saja Sinemart yang saat ini tengah shooting novelnya yang berjudul Three Days Cinderella, Cipta Karya Cinema yang sudah mengontrak Tunangan? Hmm… untuk dijadikan film televisi, serta TV 7 yang telah mengambil Jejak Kupu-kupu untuk diproduksi menjadi sinetron.

Wanita ini lahir dari keluarga Tionghoa di Jakarta yang akrab dengan bidang pendidikan. Ayahnya Max Timotius Tannos, dulunya pernah menjadi kepala sekolah sebelum akhirnya berwiraswasta. Ibunya, Hennyriawati adalah seorang guru SD di SDK II Penabur Jakarta. Agnes anak bungsu dari dua bersaudara, adalah mantan guru matematika di SMUK I Penabur Jakarta. Kakaknya Temmy Mozes Tannos, juga seorang guru privat. “Menjadi seorang penulis sama saja dengan seorang guru, ia berusaha memperluas wawasan bagi pembacanya, tapi tidak dengan cara menggurui seperti di sekolah.” Sejak kecil, Agnes sudah menyukai bidang seni dan sastra. Ia sempat aktif menyanyi. “Pernah tampil di TVRI dalam acara pop dan keroncong belasan kali,” ujar penggemar berat film dan bacaan ini. Karena gemar membaca, ia pernah bercita-cita menjadi pengarang novel waktu sekolah dulu, tapi waktu itu novel yang dibuatnya teronggok begitu saja karena masih belum punya komputer.

Baru tahun 2000 ia bisa dengan intens menulis. Waktunya untuk menulis semakin tercurahkan ketika pada tahun 2001 ia berhenti mengajar di SMUK I Penabur Jakarta yang sudah dijalaninya sejak 1996. Novel pertamanya berjudul Jejak Kupu-kupu yang diterbitkan Penerbit Primanata Publishing pada tahun 2003 langsung mendapat sambutan hangat di hati pembaca dan dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2004. Selanjutnya, bak air terjun, novel-novelnya terus mengalir.

Satu novel ringan bertema remaja, bisa ia selesaikan dalam waktu dua bulan, sedangkan novel yang agak berat dan butuh banyak literatur ia selesaikan dalam waktu enam bulan. Setiap hari ia menulis sekitar empat jam, di saat anak-anaknya sekolah. “Dan malam hari saat mereka sudah tidur,” ujar wanita yang kini hanya menulis dan menjadi ibu rumah tangga ini.

Itu dalam situasi normal, artinya tidak ada sesuatu yang mengharuskan dia segera menyelesaikan novelnya. “Tapi jika ada deadline saya ngebut juga.”

Di sela-sela pekerjaannya sebagai penulis, dunia ajar-mengajar tetap menjadi bagian dari kesehariannya. Setiap hari sabtu ia memberi kursus privat matematika pada anak-anak SMP dan SMA. “Mungkin itulah sebabnya saya dekat dengan dunia remaja, karena banyak bergaul dengan mereka.” Harapannya di masa depan adalah novelnya bisa go internasional, dan semakin banyak orang yang membaca karyanya.

    Leave a Reply

    avatar
      Subscribe  
    Notify of